Langsung ke konten utama

Ramadhan: Sehidup Sesyurga

Ahad, 16 Februari 2024, Masjid Muhammad Salim, PRM Jetak Ngasri, ikut menyambut dengan gembira akan khabar datangnya bulan yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin, yaitu bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan 1446 Hijriah, dengan mengadakan kajian spesial Targhib Ramadhan.

Kajian spesial Targhib ramadhan kali ini dengan mendatangkan ustadz kondang, ustadz yang ahli di bidang "asmara", ustadz Arif Syaifuddin, MA. Beliau mengawali kajiannya dengan mengutarakan statement penting, kalau kunci rumah tangga itu harus "sehidup sesyurga, bukan sehidup semati", celetuknya. 


Ramadhan ku, Sakinah keluarga ku, adalah topik yang diangkat sore ini. Kemudian ustadz Arif, sapaan akrabnya, melanjutkan pesan mauidhahnya dengan menyuguhkan potret dan gambaran keluarga. Beliau memotret ada empat tipikal keluarga, pertama, tipe keluarga yang suaminya masuk syurga, sedang isterinya masuk neraka, ini adalah potret nabi Nuh As. Kedua, potret Rumah Tangga yang suaminya masuk neraka, sedangkan isterinya masuk syurga, ini adalah kisah keluarga Fir'aun.

Ketiga, model keluarga yang suami istri sama-sama masuk neraka, ini adalah ibrah dari keluarga Abu Lahab. Dan potret keluarga yang keempat adalah potret keluarga yang suami istri, bahkan keluarganya masuk syurga. Ini adalah potret keluarga nabi Ibrahim As dan nabi Muhammad SAW, keluarga inilah yang diidam-idamkan kaum muslimin. 

Selanjutnya, ustadz Arif mengingatkan kepada jamaah yang hadir, untuk senantiasa memperbaiki niatnya. Niat yang tulus karena Allah SWT, bukan yang lain. Niat ketika menikah, juga niat ketika puasa ramadhan, harus sama-sama karena Allah SWT. Ketika ibu-ibu memasak untuk suaminya, perlu dilihat niatnya untuk apa? Ikhlas karena Allah SWT atau karena ingin dicintai suaminya. "Ibu, kalau njenengan sudah capek-capek nyiapin hidangan buka puasa, ternyata suaminya sudah berbuka dengan teman sekantor, kira-kira gimana perasaan njenengan?", nah, perbaiki niatnya, pesan beliau, karena letaknya bahagia rumah tangga itu ada di niat, niat yang tulus, pasti berpahala. 

Terakhir, ibadah yang paling lama adalah ibadah pernikahan. Beda dengan ibadah shalat, puasa, dan haji yang hanya butuh beberapa jam dan hari saja untuk menyelesaikannya. Kalau pernikahan mulai akad nikah sampai meninggal. "Tidak sekedar mulai dari sahur sampai buka. Tetapi pernikahan itu selamanya. Sehidup sesyurga", tutupnya (.) 

NetizMu: Lutfi Letvana


Komentar