Ramadhan selalu menghadirkan satu kata yang ringan diucapkan tetapi berat dijalankan yakni sabar. Setiap memasuki bulan suci, kita diingatkan bahwa puasa adalah latihan kesabaran. Namun sering kali sabar dipahami secara sempit, sekadar menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga maghrib. Padahal, Ramadhan adalah madrasah besar yang mendidik manusia agar matang secara spiritual dan sosial. Al-Qur’an menegaskan, “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini menunjukkan bahwa sabar bukan sikap pasif, melainkan energi aktif yang menguatkan langkah hidup. Bahkan dalam ayat lain ditegaskan, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10). Sabar memiliki dimensi pahala yang tak terhingga. Rasulullah ï·º juga menegaskan, “Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganla...
Dalam pandangan Islam, manusia tidak hadir di bumi tanpa mandat. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah , sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 30. Istilah ini bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan amanah besar: menjadi wakil Allah dalam mengelola dan memakmurkan bumi. Kekhalifahan bukan lisensi untuk menguasai secara serakah, tetapi tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan keadilan. Secara konseptual, khalifah berarti pengganti atau pengelola yang diberi mandat. Dalam literatur tafsir klasik seperti Tafsir al-Tabari, kekhalifahan dipahami sebagai penugasan manusia untuk menegakkan kehendak Allah di bumi, termasuk menjaga keteraturan dan mencegah kerusakan. Amanah ini bersifat moral dan spiritual. Artinya, kepemimpinan manusia atas bumi tidak berdiri di atas hak mutlak, melainkan di atas tanggung jawab dan pertanggungjawaban. Di sinilah konsep ekoteologi menemukan relevansinya. Ekoteologi adalah refleksi teologis tentang relasi iman dan lingkungan hidup. ...