Dalam pandangan Islam, manusia tidak hadir di bumi tanpa mandat. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah , sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 30. Istilah ini bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan amanah besar: menjadi wakil Allah dalam mengelola dan memakmurkan bumi. Kekhalifahan bukan lisensi untuk menguasai secara serakah, tetapi tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan keadilan. Secara konseptual, khalifah berarti pengganti atau pengelola yang diberi mandat. Dalam literatur tafsir klasik seperti Tafsir al-Tabari, kekhalifahan dipahami sebagai penugasan manusia untuk menegakkan kehendak Allah di bumi, termasuk menjaga keteraturan dan mencegah kerusakan. Amanah ini bersifat moral dan spiritual. Artinya, kepemimpinan manusia atas bumi tidak berdiri di atas hak mutlak, melainkan di atas tanggung jawab dan pertanggungjawaban. Di sinilah konsep ekoteologi menemukan relevansinya. Ekoteologi adalah refleksi teologis tentang relasi iman dan lingkungan hidup. ...
Sering kali kita memandang sekolah sebagai tempat utama pendidikan anak. Padahal, rumah adalah madrasah pertama dan orang tua adalah guru yang paling awal dikenal. Ramadhan menghadirkan kurikulum istimewa yang tidak tertulis di papan tulis, tetapi hidup dalam keseharian keluarga. Di bulan inilah nilai-nilai dasar kehidupan diajarkan secara alami dan menyentuh hati. Barangkali di sekeliling kita masih ada dan mungkin banyak orang yang tidak berpuasa padahal tidak ada udzur syar’i. Mereka terlihat segar, berbadan sehat, berkecukupan secara ekonomi, dan juga berpengetahuan, dapat mengerjakan tugas keseharian dengan baik. Bisa jadi yang demikian itu salah satu sebabnya adalah dikarenakan tidak mendapatkan pendidikan di masa kecil. Rumah tidak dimanfaatkan sebagai madrasah bagi anak untuk membentuk karakter beriman. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an Surat Thaha ayat 132 yang artinya: “Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” A...