Muhammadiyah: Antara Kartu Anggota dan Dompet yang "Sariawan" Sukma Jaya Menjadi anggota Muhammadiyah itu berat. Benar, berat. Bukan cuma karena harus terbiasa dengan rapat yang panjang atau urusan kalender hijriyah yang bikin lebaran kita kadang beda sendiri, tapi karena ada satu beban sejarah yang menempel di dahi kita: Teologi Al-Ma’un . Kiai Ahmad Dahlan dulu tidak cuma menyuruh muridnya baca surat Al-Ma’un sampai hafal, tapi sampai pegel karena harus mencari orang miskin buat dikasih makan. Jadi, kalau hari ini ada warga Muhammadiyah yang pelitnya minta ampun, ini sebenarnya sebuah anomali besar. Ibarat beli bakso tapi gak mau pake kuah; ada yang kurang, hambar, dan bikin seret. Pelit: Penyakit "Alergi Sosial" Gerakan "tangan di atas" adalah sinonim dengan Muhammadiyah . Dari rumah sakit sampai panti asuhan, semuanya dibangun pakai modal "iuran" dan "infak". Kalau ada warga yang kalau dengar kotak infak lewat langsung pura-pur...
Pembuka Beberapa waktu lalu, di tengah sebuah pengajian, saya ditanya oleh seorang jamaah yang duduk di samping saya. Beliau bisa dikatakan masih baru dalam ber-Muhammadiyah. Pertanyaannya sebenarnya bukan hal baru—bahkan pertanyaan yang dulu pernah saya ajukan sendiri ketika masih muda. Pertanyaannya kurang lebih begini: Apakah seseorang yang sholat menggunakan qunut bisa dikatakan bukan orang Muhammadiyah Apakah sholat Id tanpa takbir tambahan berarti bukan Muhammadiyah? Bagaimana dengan beberapa daerah yang warga Muhammadiyah-nya tidak menggunakan takbir tambahan tersebut Bagaimana dengan mereka yang masih menghalalkan bunga bank, padahal berbeda dengan keputusan Muhammadiyah? Bagaimana dengan poligami? Perbedaan-perbedaan praktik di kalangan warga Muhammadiyah seperti ini sering kali dijadikan pemicu untuk memberi label kepada sesama warga Muhammadiyah sebagai “bukan Muhammadiyah”. Soal Identitas Mengenai perbedaan praktik keagamaan tersebut, pernah saya tanyakan kepada dua guru sa...