Ibadah Berdalil, Organisasi Bertata: Menyelami Tanawwu’ fil Ibadah dan Dinamika Pemikiran Ber-Muhammadiyah Oleh: Sukma Jaya "Muhammadiyah itu pandai berbaris tapi susah diajak kumpul, sementara NU pandai berkumpul tapi susah diajak baris." Seloroh yang sering terdengar di meja kopi aktivis ini bukan sekadar guyonan. Bagi Muhammadiyah, "pandai berbaris" adalah representasi kekuatan sistem, ketaatan pada aturan, dan kerapian nomenklatur. Namun, rahasia besar Muhammadiyah mampu melintasi zaman selama lebih dari satu abad bukan hanya karena ia dikelola sebagai perkumpulan, melainkan sebagai sebuah "Barisan Ibadah." Tanawwu’ fil Ibadah: Keragaman dalam Koridor Dalil Sebagai gerakan tajdid (pembaruan), Muhammadiyah percaya bahwa ibadah adalah pengabdian yang memiliki "legalitas" wahyu yang jelas. Di sinilah konsep Tanawwu’ fil Ibadah—keragaman cara beribadah—menjadi sangat krusial. Seringkali orang salah memahami, menganggap keragaman berarti ...
Pernahkah kita membayangkan mengapa sebuah kerajaan besar bisa retak hanya karena urusan kecil, kunci pintu, sementara organisasi dengan jutaan anggota bisa tetap solid selama berabad-abad? Konflik berkepanjangan di Keraton Kasunanan Surakarta memberikan kita pelajaran mahal. Di balik tembok tebal dan tradisi luhurnya, perseteruan yang terjadi seringkali bukan soal ideologi besar, melainkan soal "Ego Raja". Ketika kepemimpinan dianggap sebagai hak milik pribadi, warisan darah, atau pundi-pundi kekuasaan absolut, maka di sanalah benih perpecahan mulai tumbuh. Tragedi Singgasana Tunggal Raja adalah pusat tata surya dalam sistem monarki absolut yang kaku. Seluruh planet di sekelilingnya akan berbenturan jika pusat goyah. Kasus Keraton Solo menunjukkan bahwa kepemimpinan menjadi sangat rapuh terhadap perasaan pribadi, kecemburuan antar saudara, dan perebutan akses keuangan ketika tidak ada mekanisme "pembagi kekuasaan" yang disepakati. Perasaan bahwa "Saya adalah o...