Langsung ke konten utama

Postingan

Koordinasi Tabligh Se-Kabupaten Malang, Satukan Langkah Dakwah Menyambut Ramadhan 1447 H

🆔️ Netizmu:  🆑  Editor : Ali S Kholimi đź“– Malang, 9 Februari 2026. Pagi yang cerah di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang menjadi saksi berkumpulnya para penggerak dakwah dari berbagai penjuru Kabupaten Malang. Bertempat di Masjid AR Fachruddin UMM, Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang menggelar rapat koordinasi dan konsolidasi bersama Ketua dan Sekretaris Majelis Tabligh PCM se-Kabupaten Malang, Ahad (8/2). Sejak pukul 07.00 WIB, peserta mulai berdatangan, melakukan registrasi, dan saling menyapa dalam suasana hangat penuh ukhuwah. Kegiatan dibuka secara resmi melalui rangkaian pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, serta sambutan dari jajaran pimpinan Majelis Tabligh dan PDM Kabupaten Malang. Dalam sambutannya, panitia menegaskan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting menyambut Ramadhan 1447 H, sekaligus menyamakan persepsi gerakan dakwah agar berjalan terarah, terstruktur, dan selaras deng...
Postingan terbaru

Beratnya Menjadi Muhammadiyah dan Tantangan Menghidupkan Ruh Al-Ma’un di Amal Usaha

✍🏻  Penulis:  Khilmi Arif , Anggota MPID PCM Dau Menjadi anggota Muhammadiyah itu memang berat. Berat bukan karena rapat yang panjang atau urusan kalender hijriah yang kadang bikin kita lebaran “beda sendiri”, tetapi karena ada beban sejarah dan ideologi yang melekat kuat: Teologi Al-Ma’un. Sejak awal, Kiai Ahmad Dahlan tidak mendidik muridnya hanya untuk pandai membaca ayat, tetapi memaksa mereka turun ke jalan, mencari fakir miskin, memberi makan orang lapar, dan menghadirkan Islam dalam tindakan nyata ( Sukma Jaya, 2026 ). đź“– Tulisan Sukma Jaya yang dimuat di laman Progresmu.id   ( 06/02/2026) itu menarik diperbincangkan, bisa jadi hal tersebut memang terjadi di banyak daerah dan cabang Muhammadiyah di Indonesia. Bukan hanya menyindir tapi langsung to the point dalam mengingatkan warga Muhammadiyah untuk introspeksi diri. Oleh karenanya, ketika hari ini ada warga Muhammadiyah, termasuk yang aktif di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), yang kering empati dan pelit kepedu...

Menjelang Satu Abad NU: Mengapa Muhammadiyah Perlu Belajar "Ikramul Ulama"?

  ✨  Menjelang Satu Abad NU: Mengapa Muhammadiyah Perlu Belajar "Ikramul Ulama"? ✍🏻  Penulis  :  Sukma Jaya Momentum Harlah Nahdlatul Ulama (NU) yang memasuki usia satu abad bukan sekadar perayaan angka bagi kaum Nahdliyin. Bagi Muhammadiyah, ini adalah cermin besar untuk merefleksikan kembali bagaimana sebuah gerakan menjaga "ruh" dan "manusianya". Di tengah keunggulan Muhammadiyah mengelola ribuan amal usaha secara modern, ada satu ruang sunyi yang perlu diisi: tradisi ikramul ulama —memuliakan ulama. Karisma vs Sistem: Sebuah Ironi Muhammadiyah adalah juara dalam membangun sistem. Dengan manajemen yang rapi, organisasi ini mampu mengubah ketergantungan pada sosok menjadi ketergantungan pada institusi. Namun, di balik keberhasilan itu, tersimpan risiko sosiologis yang nyata. Ketika seorang Kyai atau Ustadz Muhammadiyah selesai masa jabatannya (tidak mengorbit) atau wafat, namanya sering kali menguap begitu saja. Ia menjadi "baut" yang ...

KHGT: Langkah Muhammadiyah Menuju "Satu Hari Raya" bagi Dunia

  ✨ K HGT: Langkah Muhammadiyah Menuju "Satu Hari Raya" bagi Dunia ✍🏻 Penulis : Sukma Jaya đź“– Masyarakat Indonesia tampaknya terbiasa dengan ritual tahunan menunggu hasil Sidang Isbat menjelang Ramadan atau Idulfitri. Setiap tahun, ada ketegangan yang sering muncul antara penganut Rukyat (melihat bulan secara fisik) dan Hisab (perhitungan matematis). Namun, Muhammadiyah melangkah lebih jauh dengan mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) mulai tahun 1446 H. Ini bukan hanya masalah pindah metode penanggalan; itu adalah upaya untuk membawa ibadah umat Islam ke peradaban yang lebih terstruktur di seluruh dunia ( terorganisir secara global) . Fiqh Muqaran: Mencari Titik Temu di Antara Perbedaan Dalam kajian Fiqh Muqaran (perbandingan mazhab), perbedaan penentuan awal Ramadan biasanya berakar pada interpretasi teks: Rukyatul Hilal: Bergantung pada teks harfiah untuk "melihat" bulan. Prinsipnya adalah lokalitas (muthlaqul wilayah) dan ta'abbudi (me...

Muhammadiyah: Antara Kartu Anggota dan Dompet yang "Sariawan"

  ✨  Muhammadiyah: Antara Kartu Anggota dan Dompet yang "Sariawan" ✍🏻  Penulis  :  Sukma Jaya đź“– Menjadi anggota Muhammadiyah itu berat. Benar, berat. Bukan cuma karena harus terbiasa dengan rapat yang panjang atau urusan kalender hijriyah yang bikin lebaran kita kadang beda sendiri, tapi karena ada satu beban sejarah yang menempel di dahi kita: Teologi Al-Ma’un . Kiai Ahmad Dahlan dulu tidak cuma menyuruh muridnya baca surat Al-Ma’un sampai hafal, tapi sampai pegel karena harus mencari orang miskin buat dikasih makan. Jadi, kalau hari ini ada warga Muhammadiyah yang pelitnya minta ampun, ini sebenarnya sebuah anomali besar. Ibarat beli bakso tapi gak mau pake kuah; ada yang kurang, hambar, dan bikin seret. Pelit: Penyakit "Alergi Sosial" Gerakan "tangan di atas" adalah sinonim dengan Muhammadiyah . Dari rumah sakit sampai panti asuhan, semuanya dibangun pakai modal "iuran" dan "infak". Kalau ada warga yang kalau dengar kotak infak ...

Berbeda Praktik Keagamaan, Masihkah Disebut Muhammadiyah?

Pembuka Beberapa waktu lalu, di tengah sebuah pengajian, saya ditanya oleh seorang jamaah yang duduk di samping saya. Beliau bisa dikatakan masih baru dalam ber-Muhammadiyah. Pertanyaannya sebenarnya bukan hal baru—bahkan pertanyaan yang dulu pernah saya ajukan sendiri ketika masih muda. Pertanyaannya kurang lebih begini: Apakah seseorang yang sholat menggunakan qunut bisa dikatakan bukan orang Muhammadiyah Apakah sholat Id tanpa takbir tambahan berarti bukan Muhammadiyah? Bagaimana dengan beberapa daerah yang warga Muhammadiyah-nya tidak menggunakan takbir tambahan tersebut Bagaimana dengan mereka yang masih menghalalkan bunga bank, padahal berbeda dengan keputusan Muhammadiyah? Bagaimana dengan poligami? Perbedaan-perbedaan praktik di kalangan warga Muhammadiyah seperti ini sering kali dijadikan pemicu untuk memberi label kepada sesama warga Muhammadiyah sebagai “bukan Muhammadiyah”. Soal Identitas Mengenai perbedaan praktik keagamaan tersebut, pernah saya tanyakan kepada dua guru sa...

Ibadah Berdalil, Organisasi Bertata: Menyelami Tanawwu’ fil Ibadah dan Dinamika Pemikiran Ber-Muhammadiyah

  Ibadah Berdalil, Organisasi Bertata: Menyelami Tanawwu’ fil Ibadah dan Dinamika Pemikiran Ber-Muhammadiyah Oleh:  Sukma Jaya "Muhammadiyah itu pandai berbaris tapi susah diajak kumpul, sementara NU pandai berkumpul tapi susah diajak baris."  Seloroh yang sering terdengar di meja kopi aktivis ini bukan sekadar guyonan. Bagi Muhammadiyah, "pandai berbaris" adalah representasi kekuatan sistem, ketaatan pada aturan, dan kerapian nomenklatur. Namun, rahasia besar Muhammadiyah mampu melintasi zaman selama lebih dari satu abad bukan hanya karena ia dikelola sebagai perkumpulan, melainkan sebagai sebuah  "Barisan Ibadah." Tanawwu’ fil Ibadah: Keragaman dalam Koridor Dalil Sebagai gerakan  tajdid  (pembaruan), Muhammadiyah percaya bahwa ibadah adalah pengabdian yang memiliki "legalitas" wahyu yang jelas. Di sinilah konsep Tanawwu’ fil Ibadah—keragaman cara beribadah—menjadi sangat krusial. Seringkali orang salah memahami, menganggap keragaman berarti ...