Langsung ke konten utama

Postingan

  Merawat Gaya Sentripetal Iman di Bulan Syawal Sukma J Beberapa hari lalu, kita baru saja meninggalkan madrasah agung bernama Ramadhan. Kita telah melatih jiwa, menundukkan syahwat, dan membasahi lisan dengan zikir. Namun, kini kita memasuki bulan Syawal—bulan yang berarti "peningkatan", namun sering kali menjadi titik balik di mana grafik ibadah kita justru menurun. Dalam perenungan dunia sains, kehidupan kita sering kali terjebak dalam apa yang disebut Gaya Sentrifugal. Bayangkan sebuah benda yang berputar sangat kencang. Semakin cepat putarannya, muncul gaya yang mendorong benda itu untuk terlempar keluar, menjauh dari pusatnya. Apalagi bila benda yang diputar semakin berat, maka potensi terlemparnya semakin jauh. Begitu jugalah dunia setelah Ramadhan. Kesibukan kerja, ambisi materi, dan godaan ego kembali berputar kencang di hadapan kita. Jika kita tidak waspada, gaya sentrifugal duniawi ini akan melempar jiwa kita jauh dari Pusat Kesucian (Fitrah) yang baru saja kita r...
Postingan terbaru

Sholat Id di Tanah Lapang: Syiar Islam Berkemajuan

Sholat Idul Fitri dan Idul Adha bukan sekadar ibadah tahunan, tetapi juga syiar besar Islam yang sarat makna spiritual dan sosial. Cara pelaksanaannya pun memiliki dasar yang kuat dalam sunnah Nabi Muhammad SAW. Di tengah dinamika umat hari ini, menghidupkan kembali sholat Id di tanah lapang menjadi bagian dari upaya meneguhkan Islam berkemajuan, Islam yang kembali pada sumber otentik sekaligus menghadirkan kemaslahatan luas. Merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang terjemahannya: “Rasulullah SAW keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju mushalla (lapangan).” Hadits ini berstatus muttafaq ‘alaih, derajat tertinggi dalam kesahihan. Dikuatkan pula oleh riwayat dari Ummu Atiyyah, yang artinya: “Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk keluar (ke lapangan) pada hari Idul Fitri dan Idul Adha…” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Bahkan perempuan, termasuk yang sedang haid, dianjurkan hadir untuk menyaksikan syiar tersebut. Sebaliknya, riwayat sholat Id d...

Ketika Bulan Sabit Menjadi Perbincangan Umat Menjelang Syawal

  Foto diambil dari wilayah Dau Malang pkl 05:18 (17/03/2026) Pagi ini, terlihat jelas bulan sabit di ufuk timur makin menipis. Itu memang pertanda bahwa bulan qamariyah sedang menuju akhir. Dalam kalender hijriah, fase bulan yang semakin tipis menjelang fajar sering disebut sebagai bulan tua. Secara alamiah, ini memang memberi isyarat bahwa kita sedang mendekati pergantian bulan, termasuk menuju awal Syawal. Namun, apakah dengan melihat bulan sabit yang mulai menipis di pagi hari ini, Selasa 17 Maret 2026 otomatis berarti hilal akan terlihat pada Kamis sore 19 Maret 2026? Belum tentu. Dalam ilmu falak, hilal yang menjadi penanda awal bulan baru adalah bulan sabit yang pertama kali muncul setelah terjadinya ijtimak (konjungsi) dan terlihat di ufuk barat setelah matahari terbenam. Jadi meskipun pagi hari (Kamis) seandainya kita bisa melihat bulan tua yang sangat tipis di ufuk timur, belum tentu sore harinya hilal baru sudah cukup tinggi dan cukup terang untuk dapat dirukyat. Fenomen...

PERUSAK AMAL DI BULAN RAMADHAN

 Lima hal ini patut dihindari ketika kita menjalankan puasa di Bulan Ramadhan. Inilah hal-hal perusak di bulan Ramadhan. Perusak 01: Tanpa ilmu  Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, اَنَّ العَامِلَ بِلَا عِلْمٍ كَالسَّائِرِ بِلاَ دَلِيْلٍ وَمَعْلُوْمٌ اَنَّ عَطَبَ مِثْلِ هَذَا اَقْرَبُ مِنْ سَلاَمَتِهِ وَاِنْ قُدِّرَ سَلاَمَتُهُ اِتِّفَاقًا نَادِرًا فَهُوَ غَيْرُ مَحْمُوْدٍ بَلْ مَذْمُوْمٌ عِنْدَ العُقَلاَءِ “Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang rusak karena berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.” Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, مَنْ فَارَقَ الدَّلِيْل ضَلَّ السَّبِيْل وَلاَ دَلِيْلَ إِلاَّ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُوْل “Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia bisa tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain de...

ENAM HAL PEMBATAL PUASA

  1. Makan dan minum dengan sengaja. Hal ini merupakan pembatal puasa berdasarkan kesepakatan para ulama. Makan dan minum yang dimaksudkan adalah dengan memasukkan apa saja ke dalam tubuh melalui mulut, baik yang dimasukkan adalah sesuatu yang bermanfaat (seperti roti dan makanan lainnya), sesuatu yang membahayakan atau diharamkan (seperti khomr dan rokok), atau sesuatu yang tidak ada nilai manfaat atau bahaya (seperti potongan kayu).  Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”  (QS. Al Baqarah: 187). Jika orang yang berpuasa lupa, keliru, atau dipaksa, puasanya tidaklah batal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا نَسِىَ فَأَكَلَ وَشَ...

LIMA AMALAN PELEBUR DOSA DI BULAN RAMADHAN

Berikut disebutkan beberapa amalan yang bisa melebur dosa di bulan Ramadhan. 1- Shalat lima waktu, bertemu dengan hari Jumat dan bertemu dengan Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233) 2. Amalan puasa Ramadhan Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Hu...

Ramadhan dan Seni Menjadi Sabar

  Ramadhan selalu menghadirkan satu kata yang ringan diucapkan tetapi berat dijalankan yakni sabar. Setiap memasuki bulan suci, kita diingatkan bahwa puasa adalah latihan kesabaran. Namun sering kali sabar dipahami secara sempit, sekadar menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga maghrib. Padahal, Ramadhan adalah madrasah besar yang mendidik manusia agar matang secara spiritual dan sosial. Al-Qur’an menegaskan, “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini menunjukkan bahwa sabar bukan sikap pasif, melainkan energi aktif yang menguatkan langkah hidup. Bahkan dalam ayat lain ditegaskan, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10). Sabar memiliki dimensi pahala yang tak terhingga. Rasulullah ﷺ juga menegaskan, “Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganla...